Wednesday, 13 July 2022

TERMINOLOGI MEDIS

 

TERMINOLOGI MEDIS

Istilah medis umumnya berasal dari bahasa Greek dan Latin. Beberapa di antaranya diadopsi dari bahasa modern, terutama German dan French. Penggabungan berbagai istilah bisa saja mencampurkan berbagai asal bahasa, misalnya „teleradiography‟ yang prefix-nya berasal dari „tele‟ (Greek: jauh), dengan root-nya „radius‟ (Latin: sinar) dan „graphein‟ (Greek: menulis); atau istilah „claustrophobia‟ yang rootnya berasal dari „claustrum‟ (Latin: ruang tertutup) dan „phobia‟ (Greek: takut).

Tulisan Hippocrates (460-370 BC) banyak berisi istilah yang masih terpakai sampai saat ini. Beberapa di antaranya mengenai anatomy seperti acromion, apophysis, olecranon, bronchus, thorax, meninges, peritoneum, symphysis; dan ureter. Lainnya merujuk pada konsep obstetri seperti bregma, chorion, dan lochia; atau pun pada penyakit seperti carcinoma, emphysema, ileus, nephritis, phthisis, kyphosis, dan lordosis. Begitu pula dengan Aristotle (384-322 BC), yang pertama kali menggunakan istilah alopecia untuk botak abnormal, dan penyakit mata seperti glaucoma, exophthalmos dan leukemia. Untuk tujuan pendidikan di Apikes Iris, pembedaan atas asal-usul Greek atau Latin tidak dilakukan.

Analisa istilah medis dilakukan dengan pemecahan istilah tersebut atas bagian-bagian komponennya, yaitu suffixes, roots, dan prefixes, misalnya appendectomy yang terbagi atas : ectomy (pembuangan) dan appendec (appendix), dan berarti „pembuangan appendix‟. Kadang- kadang istilah ini tidak pas, misalnya „anemia‟ yang memiliki prefix „an‟ dan root „emia‟; pada hal artinya kekurangan sel-sel darah merah dan hemoglobin, bukan tidak memiliki darah.

Elemen-elemen Istilah Medis :

 

PREFIKS (AWALAN)

‐ Kata sifat, kata keterangan

‐ Kata depan yang digunakan untuk menyatakan hubungan atau kondisi akar kata.

Contoh :

1.       Macro : besar

2.       bradi : lambat

3.       Micro : kecil

4.       tachy : cepat

Root /Akar kata

Dalam terminologi medis adalah elemen dasar dari istilah medis apa pun. Akar sering menunjukkan bagian tubuh atau sistem. Artinya dapat dipengaruhi oleh suffix dan prefix-nya. Seharusnya jika root-nya menggunakan bahasa Yunani, maka suffix dan prefix juga Yunani /Greek, begitu juga dengan root Latin harusnya digunakan bersama suffix dan prefix Latin. Namun kenyataannya tidak seperti itu /tidak konsisten.

Dalam penggunaannya, antara root dengan prefix atau suffx dapat disisipkan huruf hidup (a, i, atau o), tujuannya adalah membantu pengucapan.

Contoh Root dan artinya ;

  • aden- kelenjar
  • aer- udara
  • angio- pembuluh
  • arth- sendi
  • blephar- kelopak mata

Suffix (akhiran) dan elemen tambahan

Suffix sejati adalah kata „preposisi‟ atau „adverb‟ yang disambungkan pada akhir suatu kata untuk mengubah maknanya. Banyak pula akhiran ini berupa „adjective‟ atau „noun‟ yang ditambahkan untuk membentuk kata majemuk; mereka disebut „pseudosuffixes‟. Untuk memudahkan belajar, akhiran yang mengubah makna ini diklasifikasikan atas suffix diagnostik, operasi, dan gejala; dan elemen tambahan.

Dalam menganalisa suatu istilah dianjurkan untuk mulai dengan suffix, dan kemudian root atau root dan prefix. Cara ini bisa membuka definisi sesungguhnya istilah tersebut, atau mendapatkan artinya yang dikiaskan.

Contoh: analgetik (pengurang nyeri)

An / algia

Tidak ada / nyeri

An berarti “tidak ada”, tapi bukan tidak sama sekali. Contoh: anuria (urin‐nya sedkit, bukan “tidak ber‐urin”.

Contoh lain:

1.       apneu (gagal nafas).

Apneu (a : tanpa) = tidak bernafas/gagal nafas (bukan berarti sudah mati)

Butuh ventilasi mekanik=ventilator untuk membantu pernafasan pasien.

  1. -cele = hernia, tumor, penonjolan
  2. -emia = darah
  3. -ectasis = expansi/perluasan, dilatasi/pelebaran
  4. -iasis = keadaan, pembentukan, kehadiran
  5. –itis = peradangan

EPONYMS

Penyakit khusus, sindrom atau suatu keadaan penyakit dinyatakan dengan nama orang, biasanya yang pertama mengidentifikasi penyakit tersebut.

Misal : Alzheimer’s disease (pikun)

Bell’s palsy

Crohn’s disease (gangguan pada pencernaan, yaitu atrofi pada vili usus). Atrofi = a + tropy (tidak berkembang). Akibat dari penyakit ini yaitu malnutrisi (nutrisi buruk).

Malabsorpsi berbeda dengan maldigesti. Penyakit “celiac” pada anak‐anak merupakan penyebab terpenting dari malabsorpsi pada anak. Penyakit ini ditandai oleh atrofi vili usus halus bagian proksimal.



No comments:

Post a Comment